Selamat datang di blog yang sangat sederhana ini
Senin, 05 Desember 2011
DONGENG"DANAU TOBA"
Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang petani di sebuah desa di wilayah pulau Sumatera. Walaupun tidak mempunyai lahan pertanian yang luas, namun kehidupan petani ini tidak pernah kekurangan, karena dia adalah seorang yang rajin dan tidak mengenal lelah. Dia hidup sendirian di dalam rumahnya yang sangat sederhana namun asri. Sebenarnya dia sudah cukup umur untuk menikah, namun dia lebih memilih hidup sendiri.
Petani ini tidak pernah membuang waktu luangnya dengan hanya berdiam diri. Namun dia selalu mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan yang menghasilkan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pada suatu hari dia mengisi waktu luangnya dengan memancing di sungai untuk mencari tambahan lauk-pauk.
Hari itu, petani itu memancing di sungai yang tidak begitu besar di dekat pondoknya. Dalam hati dia berharap hari ini akan mendapatkan ikan yang labih banyak dari hari-hari sebelumnya. Sampailah petani itu di sungai yang ditujunya. Setelah beberapa saat kailnya dilemparkan ke sungai, terlihat kailnya bergerak-gerak cukup keras. “Ini pasti ikannya besar” Batin petani itu. Dan diangkatnya pancingnya itu, benar, sang petani itu mendapatkan ikan yang besar.
Petani itu sangat takjub melihat hasil pancingannya. Ikan itu tidak hanya besar ukurannya, namun mempunyai warna yang sangat indah. Ikan itu mempunyai sisik yang berwarna kuning kemerahan bagai emas yang berkilauan, dan mempunyai mata yang indah seolah bisa melihatnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ikan itu bisa bicara. “Tunggu, jangan bunuh aku, jangan kau makan aku. Aku bersedia menemanimu jika kau biarkan aku tetap hidup.” Demikian kata ikan itu.
Karena terkejutnya, petani itu hingga jatuh tersungkur. Dan ikan itu terlempar ke atas tanah dan semakin terkejut ketika ikan itu berubah wujut menjadi sosok puteri yang cantik jelita. Dilihatnya lebih dalam lagi sosok itu, sambil mengucek-kucek matanya untuk meyakinkan kalau dia sedang tidak bermimpi. “Jangan takut, aku sebenarnya juga seorang manusia, namaku Puteri Toba, aku berhutang budi denganmu pak Petani. Aku telah dikutuk oleh Dewa menjadi ikan dan kamulah yang akan menyelamatkanku. Aku juga bersedia jika nanti sudah berubah wujutku menjadi manusia seperti kau, untuk menjadi isterimu.
Petani itu pun menyanggupinya. Sebelum mereka pulang, puteri itu menyampaikan syaratnya yaitu tidak boleh menceritakan apa yang terjadi dan asal-usul Puteri Toba itu nantinya. Jika janji itu dilanggar, maka akan terjadi petaka yang besar. Petani itupun mengiyakan dan dengan senang hati membawa ikan itu pulang.
Merekapun pulang ke pondok pak tani itu. Sesampainya di desanya, kehadiran Puteri Toba ini menimbulkan keheranan bagi penduduk setempat. Kecantikannya sungguh mempesona semua penduduk yang melihatnya, mereka mengira bahwa wanita cantik yang bersama petani itu adalah bidadari. Dan puteri cantik itu sekarang sudah menjadi isteri sang Petani. Hal ini menimbulkan khasak-khusuk di antara warga desa itu, karena Petani itu mempunyai isteri yang tidak sewajarnya dan dengan asal-usul yang tidak jelas.
Sang Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Beberapa bulan berikutnya, kebahagiaan Petani dan Puteri Toba bertambah, karena Puteri Toba melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Samosir. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Samosir tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Samosir selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Abang memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri Toba kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Samosir mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Samosir tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Samosir sedang bermain-main dengan temannya. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan Puteri Toba hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan Samosir berlari tanpa arah menyalamatkan diri. Hingga Samosir terjebak di tengah-tengah luapan air. Kemudian muncullah tanah yang dipijak Samosir semakin naik dan hingga terbentuk pulau kecil dan dinamai Pulau Samosir.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar